Perjanjian Pra-Nikah (Prenuptial Agreement) dan Dampaknya Terhadap Pajak

133 Views  | 

Perjanjian Pra-Nikah (Prenuptial Agreement) dan Dampaknya Terhadap Pajak

Perjanjian pra-nikah (prenuptial agreement) merupakan sebuah kontrak atau perjanjian yang disepakati oleh pasangan suami istri, baik sebelum pernikahan atau saat Ketika pernikahan berlangsung. Tujuannya adalah untuk melindungi hak dan kewajiban antara pihak suami maupun istri setelah menikah.

Hal yang dapat diatur dalam perjanjian pra-nikah (prenuptial agreement) adalah pemisahan harta, pemisahan hutang, warisan, hak asuh anak jika terjadi perceraian, dan segala kesepakatan bersama yang perlu dituliskan (Pasal 29 Ayat 1 UU 1/1974).

 

Dampak Perjanjian Pra-Nikah Terhadap Pajak

Selain adanya pemisahan harta dan pemisahan hutang, membuat perjanjian pra-nikah (prenuptial agreement) juga memberikan dampak terhadap kewajiban perpajakan suami dan istri. Berikut adalah kewajiban perpajakan yang harus dipenuhi jika suami dan istri memiliki perjanjian pra-nikah.

 

A. Harus Memiliki NPWP Masing-Masing

Dengan menghendaki adanya perjanjian pra-nikah (prenuptial agreement), suami dan istri secara langsung menyetujui kewajiban perpajakan secara terpisah atau Pisah Harta (PH). Hal ini berarti bahwa suami dan istri masing-masing diwajibkan mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Secara aturan perpajakan, perjanjian pra-nikah membuat suami dan istri dianggap sebagai dua subjek pajak berbeda, sehingga tidak diperbolehkan memiliki satu NPWP (NPWP Keluarga) layaknya pasangan suami istri yang tidak memiliki perjanjian pra-nikah.

 

B. Harus Menggunakan Formulir 1770

Berbeda dengan pasangan suami istri yang tidak memiliki perjanjian pra-nikah dan bisa memilih formulir pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Orang Pribadi (OP) yaitu Formulir 1770S, 1770SS, atau 1770 sesuai dengan kondisi masing-masing, pasangan suami istri yang memiliki perjanjian pra-nikah hanya dapat menggunakan Formulir 1770.

 

C. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Tambahan atas Istri

Sesuai dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh), perbedaan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk pasangan suami istri yang memiliki perjanjian pra-nikah dan tidak memiliki perjanjian pra-nikah adalah adanya tambahan PTKP Istri sebesar Rp54.000.000 bagi pasangan suami istri yang memiliki perjanjian pra-nikah.

 

D. Harus Melampirkan Perjanjian Pra-Nikah dalam Pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi (OP)

Selain Bukti Potong Pajak Penghasilan (PPh) untuk karyawan, atau Laporan Peredaran Bruto untuk pengusaha, suami istri yang memiliki perjanjian pra-nikah wajib melampirkan Perjanjian Pra-Nikah yang telah dibuat dalam Akta Notaris dan telah didaftarkan dalam Dukcapil dalam bentuk file PDF setiap pelaporan SPT Tahunan OP.

 

Contoh Kasus Perbedaan Wajib Pajak (WP) Yang Memiliki Perjanjian Pra-Nikah dan Tidak

Andi adalah seorang pegawai negeri sipil dengan penghasilan Rp100.000.000 per tahun dan memiliki seorang istri pegawai tetap di suatu perusahaan dengan penghasilan Rp80.000.000 per tahun. Andi memiliki tiga tanggungan, yaitu dua anak kandung dan satu ibu kandung.

Faktor AcuanMemiliki Perjanjian Pra-NikahTidak Memiliki Perjanjian Pra Nikah
NPWPAndi memiliki NPWP, dan Istri juga memiliki NPWP sendiriCukup Andi yang memiliki NPWP
Formulir PerpajakanHarus menggunakan Formulir 1770 Menggunakan Formulir 1770S (karena penghasilan lebih dari Rp60.000.000)
PTKPK/I/3 sebesar Rp126.000.000 / tahunK/3 sebesar Rp72.000.000 / tahun 
LampiranBukti Potong 1721-A2 untuk Andi, dan 1721-A1 untuk Istri, beserta Perjanjian Pra-Nikah Bukti Potong 1721-A2 untuk Andi, dan 1721-A1 untuk Istri

Powered by MakeWebEasy.com
This website uses cookies for best user experience, to find out more you can go to our Privacy Policy  and  Cookies Policy